Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Berita UtamaPemerintahanSapa Jawa Barat

Pupuk Organik Komsah Asal Klaten Bersinar di Sukabumi

67
×

Pupuk Organik Komsah Asal Klaten Bersinar di Sukabumi

Sebarkan artikel ini

SUKABUMI, SAPA Jateng.id— Inovasi pertanian asal Klaten, Jawa Tengah, kembali menunjukkan kiprahnya di tingkat nasional.

Komsah, pupuk berbasis kompos seresah yang berfokus pada perbaikan kesehatan tanah dan pelengkapan nutrisi tanaman, menjadi salah satu bagian dari standar operasional prosedur (SOP) dalam demplot program PM AAS (Pertanian Modern- Advanced Agriculture System), yaitu sistem budidaya tanaman padi intensif berbasis teknologi yang dikembangkan oleh Kementerian Pertanian melalui BRMP (Balai Besar Penerapan Standar Instrumen Pertanian/ Balai Penerapan Modernisasi Pertanian) di Lembursitu, Sukabumi.

Hari ini, Rabu (14/10/2026) kegiatan panen bersama dilaksanakan sebagai momentum untuk melihat secara langsung hasil penerapan teknologi budidaya yang berorientasi pada kesehatan tanah dan peningkatan produktivitas pertanian.

Dalam demplot tersebut, Komsah digunakan sebagai bagian dari upaya memperbaiki kondisi tanah sekaligus mendukung pemenuhan kebutuhan nutrisi tanaman padi. Pendekatan ini menempatkan tanah bukan sekadar sebagai media tumbuh, melainkan sebagai fondasi penting bagi keberhasilan budidaya dan keberlanjutan produksi pangan.

Salah satu petani penggarap, Abdul Fatah, menyampaikan pengalamannya selama menggunakan produk Komsah. Menurut keterangannya, setelah mengaplikasikan Komsah padat, pH tanah yang sebelumnya berada di angka 4,5 dilaporkan meningkat menjadi 6,7 dalam kurun waktu dua Minggu.

Sementara itu, penggunaan Komsah Cair (KCM) dirasakan membantu pengendalian hama dan penyakit, serta mendukung pengisian bulir padi hingga ke bagian pangkal malai.

Berdasarkan pengamatan awal di lapangan, Abdul Fatah memperkirakan hasil panen dapat mencapai sekitar 12 ton per hektare. Namun, hasil pengukuran melalui metode ubinan menunjukkan angka yang lebih tinggi, yakni 13,2 ton per hektare, berdasarkan perhitungan hasil ubinan pada demplot tersebut.

“Dengan mencoba pupuk Organik Komsah, hasil panen melimpah. Saya kira hasilnya 12 ton per hektar. Itupun menurut saya sudah bagus. Ternyata lebih dari itu, mencapai 13,2 ton per hektare berdasarkan hitungan hasil ubinan,” kata Abdul Fatah selaku koordinator penggarap.

Dalam masa ujicoba, dirinya menggarap satu hektare sawah dan hasilnya sangat memuaskan. Tercatat, ini hasil panen rekor tertinggi PM AAS. Capaian ini menjadi pengalaman lapangan yang menarik dalam upaya mendorong produktivitas padi melalui pendekatan budidaya yang turut memperhatikan kesehatan tanah.

Meski demikian, hasil panen tetap dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari varietas, kondisi cuaca, pengelolaan air, pemupukan, hingga pengendalian organisme pengganggu tanaman.

Menurut owner pupuk Komsah, dr Philip Avianto Wicaksono, bagi Komsah, kegiatan ini bukan sekadar tentang hasil panen, melainkan juga tentang membangun kesadaran bahwa produktivitas pertanian harus berjalan seiring dengan perbaikan kualitas tanah.

“Tanah yang sehat menjadi salah satu fondasi penting untuk mendukung ketersediaan dan penyerapan nutrisi, pertumbuhan tanaman, serta keberlanjutan usaha tani,” kata dr Avianto sekaligus pimpinan Pusat Kesehatan Tanah dan Tanaman (Puskestan) Klaten.

Keberhasilan dari Sukabumi ini mempunyai pesan yang sangat jelas, bahwa keberhasilan panen tidak hanya dimulai dari benih dan pemupukan, tetapi juga dari tanah yang dipersiapkan dengan baik.

“Komsah, pupuk asal Klaten akan terus mengambil bagian dalam upaya mendukung pertanian Indonesia yang lebih produktif, sehat, dan berkelanjutan,” ujarnya.

Sesuai taglinenya yaitu Komsah, Sehatkan Tanahnya, Optimalkan Panennya!.(NIK)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!